Sejarah Teknik Penerbangan ITB

Teknik Penerbangan ITB dipelopori oleh dua sosok, Oetarjo Diran dan Liem Kengkie (Ken Liem Laheru), yang menjadi dosen Jurusan Mesin, Departemen Mesin-Elektro ITB, pada tahun 1960-an. Pak Diran dan Pak Kengkie sama-sama sempat kuliah di Jurusan Mesin ITB sebelum kemudian melanjutkan belajar di Eropa. Pak Diran mengambil jurusan aerodinamika di TU Delft Belanda yang kemudian disambung ke program master Aerospace Engineering di Purdue University. Adalah B.J. Habibie yang memperkenalkan Pak Kengkie ke Pak Diran. Habibie satu angkatan di bawah Pak Kengkie di jurusan aeronautika RWTH Aachen. Keduanya memang sahabat dekat saat kuliah di Jerman.

Pak Diran pulang ke Indonesia pada 1958 dan mengajar di ITB. Setahun kemudian beliau mulai menawarkan mata kuliah pilihan teknik penerbangan bagi mahasiswa Jurusan Mesin tahun ke-3 yaitu dinamika, struktur pesawat, prestasi terbang, stabilitas dan kendali. Pada tahun 1960 Pak Kengkie memutuskan pulang ke Indonesia setelah sempat bekerja di Berlin dan langsung membantu Pak Diran mengajar mata kuliah teknik penerbangan. Kedua dosen muda ini dibantu beberapa insinyur dan perwira AURI di Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP) seperti RGW Senduk, Erawan Lambri, Soegito, Soekendro, Wardoyo, dan Yuwono. Awalnya, jumlah mahasiswa hanya tiga yaitu Nugroho, Slamet B. Santoso, dan Sulaeman Kamil.

Pada tahun 1962, Presiden Soekarno mengeluarkan surat keputusan pendirian sub-jurusan Teknik Penerbangan di bawah Teknik Mesin ITB, bersama dengan pendirian jurusan Teknik Konstruksi dan Teknik Industri. Pak Diran menjadi kepala sub-jurusan Teknik Penerbangan pertama dari 1962 sampai 1968. Namun, setelah terjadinya prahara politik 1965, Pak Kengkie pada tahun 1969 terpaksa hijrah ke Amerika Serikat.

Teknik Penerbangan ITB sejak awal didirikan untuk mendukung program riset aeronautika pemerintah seperti roket bahan bakar padat Ganesha X-1 (1962), modifikasi roket Kappa buatan Jepang untuk riset atmosferik Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasisonal (LAPAN), serta Proyek Roket Ilmiah Militer Awal (PRIMA) kerja sama ITB dan TNI AD pada 1964 yang menghasilkan roket Kartika 1 dan 2.

Harijono Djojodihardjo memimpin Teknik Penerbangan pada 1969 setelah membawa pulang gelar doktor dari MIT, Amerika Serikat. Sedangkan, Pak Diran kemudian mengambil program doktoral di Jerman. Pak Harijono melakukan pengembangkan kurikulum dengan memperkenalkan sejumlah mata kuliah baru dan mendatangkan terowongan angin untuk mengisi laboratorium aero-hidrodinamika. Pada 1971, Teknik Penerbangan dibagi ke dalam lima disiplin yaitu Aero-Hidro dan Dinamika Gas; Struktur, Material dan Aeroelastisitas; Sistem Propulsi Pesawat; Kestabilan dan Kendali; dan Perancangan Pesawat dan Sistem Transportasi Udara.

Era 1970-an menandai bergesernya riset aeronautika dari militer ke sipil melalui penelitian aerodinamika bangunan, kincir angin, dan atmosferik. B.J. Habibie yang menjadi Menteri Riset dan Teknologi pada 1976 mengeluarkan kebijakan nasional pengembangan teknologi melalui pendirian Industri Pesawat Terbang Nurtanio (IPTN) yang kini menjadi PT Dirgantara Indonesia (PTDI), Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi (Puspiptek), dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Generasi awal lulusan Teknik Penerbangan kemudian bergabung ke tiga lembaga baru itu, terutama IPTN.

Pak Habibie pada tahun 1980 menjalankan peningkatan pendidikan Teknik Penerbangan ITB dengan membuat program kerja sama dengan berbagai universitas teknologi di Eropa. Inilah tonggak percepatan penguasaan pengetahuan dan riset yang dimulai dari tahun 1982 sampai 1992 untuk meningkatkan standar pendidikan teknik penerbangan agar sejajar dengan negara maju.

Pada periode ini, dosen TU Delft memberi kuliah di Bandung, sedangkan mahasiswa mendapat kesempatan mengerjakan tugas akhir di Belanda. BPPT bekerja sama dengan DAAD Jerman juga mendatangkan dosen dari Aachen untuk mengajar di ITB. Produsen pesawat Fokker turut mendanai riset dan membangun laboratorium baru. Berbagai kelompok bidang keahlian (KBK) pun bermunculan setelah sejumlah alumni yang pulang dari belajar di luar negeri bergabung sebagai tenaga pengajar. Para dosen juga dilibatkan oleh IPTN dan CASA Spanyol dalam pengembangan pesawat CN-235.

Dengan perkembangan yang pesat itu, Rektor ITB Wiranto Arismunandar pada akhir 1992 mengubah status Sub-Jurusan Teknik Penerbangan menjadi program studi di luar Teknik Mesin. Program Studi Teknik Penerbangan resmi berdiri pada 1993 dipimpin oleh Said D. Jenie dengan sekretaris Hisar M. Pasaribu. Program studi saat itu memiliki hampir 30 staf pengajar termasuk dua guru besar, dua laboratorium eksperimental, satu laboratorium terbang, tiga laboratorium komputasional, pusat desain, dan perpustakaan. Ini merupakan tonggak berikutnya untuk eskpansi yang diwarnai pendirian berbagai laboratorium dan semakin banyaknya alumni yang memperkuat staf pengajar.

Langkah IPTN mengembangkan pesawat subsonik N-250 yang memiliki fitur canggih seperti sistem kendali fly by wire dan sistem kendali digital penuh untuk mesin pesawat membutuhkan keahlian dalam sistem pesawat udara. Program Studi Teknik Penerbangan ITB kemudian mengembangkan sub-program baru yaitu sistem penerbangan yang mensyaratkan mahasiswa untuk mengambil mata kuliah di Teknik Elektro, Teknik Informatika, atau Teknik Fisika. Mahasiswa mulai tingkat 3 diberi pilihan sub-program Teknik Penerbangan dan Teknik Sistem Penerbangan.

Pada 27 Juni 1997, Rektor ITB Liliek Hendrajaya meresmikan Teknik Penerbangan sebagai jurusan mandiri di bawah Fakultas Teknologi Industri dengan Pak Said D. Jenie sebagai ketua jurusan pertama. Sebagai jurusan, Teknik Penerbangan mulai membuka program master (S2) berbasis riset selama empat semester. Sejalan dengan itu, mahasiswa mendirikan Keluarga Mahasiswa Teknik Penerbangan (KMPN) dengan nama Otto Lilienthal sebagai himpunan mahasiswa terpisah dari Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM). Teknik Penerbangan kemudian membantu pengembangan kurikulum pendidikan teknik penerbagan di lembaga pendidikan lain seperti Akademi Angkatan Udara di Yogyakarta, STPI Curug, Universitas Nurtanio, dan Politeknik Bandung. Kerja sama pendidikan dengan TNI AU juga dirintis dengan pengiriman perwira untuk melanjutkan studi sarjana di ITB.

Langkah ekspansi terhenti oleh krisis ekonomi 1997/1998 yang berkembang menjadi krisis multi-dimensi, membuat pemerintah menghentikan program pengembangan N-250 dan pesawat jet penumpang N-2130. Dampaknya, dukungan riset dari IPTN dan BPPT juga terhenti yang membuat praktik laboratorium menjadi terbatas. Sejumlah staf pengajar mengambil cuti di luar tanggungan dan memberi kuliah atau melakukan penelitian di berbagai kampus luar negeri seperti di Malaysia, NLR Belanda, dan MIT. Ini merupakan langkah brain preservation. Dengan berada di luar negeri, para dosen bisa terus terpapar dengan riset maju dan teknologi terkini.

Jurusan Teknik Penerbangan harus beradaptasi dengan membuat kurikulum lebih umum; menurunkan jumlah penerimaan mahasiswa; mengembangkan pelayanan teknologi penerbangan; menjalin kerja sama dengan institusi lain dalam pemakaian fasilitas laboratorium; dan bekerja sama dengan industri, lembaga riset, dan institusi pemerintah dan swasta. Teknik Penerbangan ITB mengambil akreditasi ABET agar bisa menerima mahasiswa asing, kuliah jarak jauh, dan menjalankan program S2 sandwich dengan kampus luar negeri.

Pada tahun 2008 ITB mengubah struktur organisasi, salah satunya memekarkan Fakultas Teknologi Industri dengan mendirikan Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara
yang mengelola empat program studi yaituTeknik Mesin, Aeronotika dan Astronotika, Teknik Material, dan Program Magister Rekayasa Nuklir. Dr. Leonardo Gunawan menjadi ketua program studi Aeronotika dan Astronotika pertama yang kini telah membuka program pendidikan doktoral (S3).