Profil: Ichsan Setya Putra

ditulis oleh: Ichsan Setya Putra
sumber: aerospaceitb.wordpress.com

Teman-teman alumni PN ysh., Saya ingin menyampaikan terimakasih sebesar-besarnya atas apresiasi dan ucapan selamat atas kesempatan saya memberikan Pidato Ilmiah Guru Besar tanggal 1 Mei 2010 yl. Tentunya apa yang telah saya capai merupakan sinergi dari upaya banyak rekan dosen, dan juga mahasiswa PN (sekarang sudah menjadi alumni). Ijinkanlah sedikit bercerita tentang perjalanan hidup saya di ITB dan sedikit di IPTN dalam rentang waktu 1977-2010, didahului dengan pengantar sampai saya masuk PN.

SEBELUM MASUK PN.

Saya dilahirkan di kota Palembang pada tahun 1958. Di suatu kampung di tengah kota Palembang. Pada waktu kecil saya masih merasakan harus menyeberang sungai Musi dengan perahu karena belum ada jembatan Musi. Hal ini rutin kami sekeluarga lakukan karena rumah nenek dari ayah berada diseberang sungai. Pada waktu SD saya juga menyaksikan perang ketapel kampung kami dengan kampung lain. Masih bermain velg sepeda yang didorong-dorong dengan sepotong kayu. Masih mandi di sungai. Dan berbagai permainan yang anak saya sekarang tidak pernah lagi melakukannnya.

Yang membedakan saya kakak/beradik dengan anak lain di kampung kami adalah kedua orang tua kami yang memiliki pandangan jauh kedepan tentang pendidikan. Kami tidak dapat meninggalkan harta untuk kalian, tapi kami akan berusaha sekuat tenaga untuk menyekolahkan kalian setinggi mungkin, demikian yang sering dikatakan kedua orang tua kami.

Pada waktu SD, mungkin saya dedang duduk di kelas 3, seorang saudara sepupu saya (wanita) diterima kuliah di ITB di Jurusan Teknik Penyehatan. Waktu pulang kampung kami diberi oleh-oleh kalender ITB yang dibuat dari kain beludru merah tua. Meskipun tidak tahu menahu tentang ITB, saya kakak beradik terinspirasi untuk kuliah di ITB. Kalender dengan lambang Ganesa itu bertahun-tahun tergantung di dinding, terus menginspirasi saya kakak/beradik. Hal ini ternyata jauh berbeda dengan kabar beberapa saudara sepupu diterima di Fakultas Kedokteran dan Fakultas Hukum UNSRI, rasanya tidak ada “greget”

Sampai SMA saya sekolah di Palembang. Saat saya naik ke kelas 2, abang saya diterima di ITB, angkatan 75. Kuliahnya di Teknik Sipil. Ternyata ini merupakan daya dorong tersendiri bagi saya untuk menyiapkan diri sebaik mungkin untuk masuk ITB. Belajar siang malam tak kenal lelah, alhamdulillah diterima di Fakultas Teknologi Industri. Sebelumnya ikut tes UNPAD diterima di Fakultas Pertanian, sudah sempat ikut Pra OS. Sudah juga membayar uang muka dan biaya kuliah, uang tak bisa kembali. Busyet dari jaman tahun 1977 ternyata sudah ada Bank MasHil (Masuk langsung Hilang), dan ini terjadi sampai sekarang bahkan di universitas negeri ternama (ITB tidak termasuk kategori Bank Mas Hil).

Pada waktu diterima di ITB saya belum tahu mau masuk jurusan apa. Memang agak berbeda dengan almarhum pak Said yang memang ingin masuk Penerbangan sejak dari SD. Mungkin juga teman-teman lain memiliki keinginan yang sama. Waktu di TPB masih mikir-mikir mau masuk jurusan apa. Ditahun 77/78 berita dikoran cukup gencar tentang pendirian PT Nurtanio. Alm ayah menanyakan apakah saya tertarik dengan bidang ini, menurut beliau tampaknya bidang ini memiliki prospek. Setelah dipikir-pikir rasanya cukup menarik, karena beda dengan kuliah di Mesin. Namun masih ada waktu untuk memilih karena Teknik penerbangan waktu itu masih sub jurusan, jadi tingkat 2 masih bersama dengan mahasiswa Mesin.

Pengalaman kuliah di tingkat 2 yang berpengaruh pada pilihan saya ke PN adalah kuliah Elemen Mesin I dari pak Sulaeman Kamil. Beliau ngajarnya “enak”. Tapi masih ragu karena cerita kakak kelas di Penerbangan lulusnya lama. Ada kuliah Aerodinamika I-III yang ujiannya lisan, bisa sampai 6 kali lho, ini pengalaman Alm Andi Hera Chandra yang ceritanya pernah sampai mengejar pak Diran ke Bandara untuk ujian. Ada tugas perancangan yang luaamaaaa lho. Tapi setalah dipikir lebih panjang tentang prospek perkembangan industri dirgantara, maka ditegarkan hati memilih PN.

KULIAH DI PN

Masa kuliah di PN terasa lain karena jumlah mahasiswa yang ikut kuliah tidak banyak. Angkatan 77 yang saya ingat masuk PN adalah Edwin, Edisan, Joksar, Michael, Dita/Doni, Sabarudin, dan Suwito. Memang ada beberapa angkatan 76 yang baru masuk jurusan bersama angkatan 77, jadi kuliahnya bareng.

Kuliah pertama Aero I, tempatnya di LAPI. Saya jadi keder, karena pak Diran langsung ngomong tentang lift, drag. Saya ingat Joksar sudah ikut nimpalin. Kuliah berikutnya sudah di lab. yang ada MiGnya. Ngomongnya tentang kentang etc. Dan tentunya matematika, dengan simbol segitiga terbalik, yang bagi saya sungguh tidak jelas dan penuh tanda tanya bagaimana fisiknya. Mungkin karena penuhnya muatan kuliah dengan konsep-konsep tingkat tinggi, maka saya sulit membayangkan fisik dari yang dibicarakan. Saya tidak sempat ujian Aero berkali-kali seperti yang diceritakan rekan angkatan sebelumnya. Hanya ada ujian tertulis sekali, yang seingat saya kata pak Diran hasilnya terlalu bagus. Saya pikir kok bisa ya terlalu bagus padahal saya tidak benar-benar memahami konsep-konsep yang dijelaskan.

Karena kesibukan pak Diran sebagai Wakil Direktur Teknologi PT Nurtaniao, kuliah dilanjutkan oleh alm pak Sugito. Meskipun matematikanya tetap saja tidak terlalu nyambung dengan fisiknya, tapi beliau mencatat dengan rapi di papan tulis. Jadi ada bahan untuk dipelajari disamping buku pegangan (fotocopy) kuno yang saya seingat saya ditulis Milne-Thompson. Pada jaman itu membaca buku fotocopy tidak senyaman sekarang yang bentuk dan warna sampulnya hampir sama dengan buku asli. Jaman itu, buku fotocopy selebar A4 atau folio karena 2 halaman dicopy sekaligus pada satu muka. Saya ingat untuk belajar Aero selain buku fotocopy saya juga membeli buku Kuethe & Chow edisi pertama yang hard cover. Warna covernya coklat muda. Mahal sih, pada waktu itu saya ingat harganya sekitar Rp.24.000. Syukur alhamdulillah Aero I-III bisa lulus sekali ujian saja.

Seperti saya sampaikan dimuka kuliah yang saya rasakan enak diikuti adalah kuliah pak Sulaeman Kamil. Konstruksi Pesawat I-III. Salah satu sebabnya saya kira karena “barangnya” jelas wujudnya. Tentu juga karena memang pak Kamil sering memberi ilustrasi untuk memudahkan mahasiswa memahami bahan. Karena pak Kamil mulai sibuk di PT Nurtanio, kuliah beberapa kali diadakan disana. Katanya sih agar staf PT Nurtanio juga bisa ikut kuliah Konstruksi Pesawat III. Alhamdulillah kuliah Konstruksi juga lancar, sekali ujian. Memang nggak ada mitosnya kuliah ini ujian berkali-kali.

Yang mungkin menarik juga diceritakan adalah kuliah Sistem Transportasi Penerbangan I dan II. Seingat saya kuliah hanya 2 atau 3 kali. Lantas disuruh membaca suatu “report”. Tidak pernah ujian, hanya menulis paper. Seingat saya paper inipun paper kelompok. Dan selesailah kuliah penting ini.

Kuliah PN yang lain adalah Mekanika Terbang (pakai buku Dommasch), Stabilitas & Pengendalian (kalau tidak salah bukunya Perkins), dan Fisika Matematika (bukunya Hildebrand, ada edisi India jadi murah harganya). Dua buku pertama yang saya sebut diatas pada saat itu juga sudah kuno. Karena kesibukan pak Harijono dengan urusan LAPAN, kuliah selalu terlambat. Bisa sampai 1 jam atau lebih. Ada periode kuliah diganti oleh pak Sugiarmadji. Kalau Fisika Matematika tugasnya banyak. Konon ada teman yang memecah satu tugas yang jumlah soalnya banyak menjadi 2 tugas terpisah. Katanya nilainya tinggi. Saya sih tidak tahu kebenarannya.

Begitulah gambaran kuliah-kuliah PN diakhir tahun 70-an. Masuk tahun ke 4 saatnya mengambil Perancangan Pesawat. Partner saya Edisan Edward mau merancang pesawat latih. Asistensi Perancangan bareng dengan angkatan sebelumnya ada pak Yusman, pak Susilo, pak Yus Markis, Pak Cony, pak Agung etc. Memang harus tahan banting. Gambar dicoret sani-sini, dibenerin, eeeh setelah bolak-balik rasanya kembali kegambar asal. Sempat mengerjakan tugas ini satu semester tapi tidak selesai. Terpaksa meninggalkan Edisan berjuang sendiri, karena saya memperoleh beasiswa mengerjakan TA di TU Delft. Di Delft tentunya sekalian mengerjakan perancangan.

Pulang ke ITB masih harus sidang sarjana dan presentasi tugas perancangan di depan pak Diran. Sewaktu di TU Delft tugas perancangan saya dibimbing oleh prof.Torenbeek. Beberapa pertanyaan pak Diran saat presentasio di ITB, saya jawab bahwa itu sudah disetujui prof.Torenbeek. Jadi nggak bisa ditanya lagi, karena “dewanya” sudah setuju. Kan sesama dewa dilarang saling bertanya 🙂

Lulus S1 ITB diminta menjadi dosen. Kata pak Kamil sih PT Nurtanio maunya kami yang mendapat beasiswa TA bekerja di IPTN. Tapi dengan perjuangan Pak Kamil dan pak Diran, maka saya, pak Joksar, dan pak Harmad boleh ke ITB.

O iya sebagai penutup bagian ini saya perlu juga menceritakan suasana Lab. PN setelah pindah dari tempat MiG 21. Saat itu lab. PN kosong melompong. Sempat beberapa dibuat tempat main badminton. Ada meja pingpong yang cukup banyak dipakai. Saya cukup sering main ping-pong disana. Yang jagoannya seingat saya Irman Bustaman (PN81?). Ada juga ruang yang dipakai mengerjakan TA dan berbagai tugas. Ruang ini dinamai RBR, Ruang Bau Rokok, karena penghuni tetapnya Michael dan Nurul (PN 79). Kalau mengerjakan tugas sebagian tidur disana, istilah Michael “melantai”, alias tidur dilantai.

MENJADI DOSEN MUDA DI PN

Bagian ini dan bagian selanjutnya saya lanjutkan kalau waktu mengijinkan.

Demikian penggalan perjalannan saya sampai lulus PN. Mudah-mudahan tidak menyinggung orang-orang yang sungguh saya hormati.

Mukhlason

Mukhlason

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *